Kerusuhan Tasikmalaya



Tanggal 26 Desember 1996, aksi kerusuhan mulai meletus ketika para aktivis pemuda mengadakan doa bersama di Masjid Agung Tasikmalaya. Saat itu, Mimih meminta agar oknum polisi yang bersalah diadili. Muis dan Asep Ilyas kemudian meneriakkan seruan "Allahu Akbar". Usai berdoa itu, di luar mesjid sudah menunggu massa lain -- menurut Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (NU) Abdurrahman Wahid dalam kesaksiannya, mereka bukanlah warga NU karena banyak yang gondrong dan bertato -- yang kemudian bergerak tak terkendali. Akibatnya, lebih dari 70 bangunan dan 107 motor serta mobil hangus; dan menimbulkan kerugian sampai Rp 85 miliar.

Kerusuhan Tasikmalaya bermula ketika seorang pengasuh Pondok Pesantren Riadulum wal Dakwah, K.H. Mahmud Farid, dan dua santrinya dianiaya oleh empat anggota Kepolisian Resor Tasikmalaya. Penyebabnya: Kopral Kepala Nursamsi marah setelah anaknya yang mondok di pesantren itu dihukum. Meski sudah didamaikan, ada yang mengembuskan kabar Kiai Mahmud meninggal dunia. Berita burung tersebut memanaskan kota penghasil payung itu.

Hampir setahun setelah meledaknya Kerusuhan Tasikmalaya, Jawa Barat mulai memvonis untuk orang-orang yang oleh aparat keamanan disebut sebagai aktor intelektualnya mulai dijatuhkan. 18 November 1997, dalam sidang yang dijaga ekstraketat dan dipenuhi pengunjung di Pengadilan Negeri Tasikmalaya, Abdul Muis bin Makun, 23 tahun, salah seorang terdakwa, dijatuhi pidana dua tahun penjara potong masa tahanan. Ketua Perhimpunan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Cabang Tasikmalaya itu dinyatakan terbukti melakukan tindak pidana subversi sebagaimana yang diatur dalam Pasal 1 ayat 1 sub 1 huruf C juncto Pasal 13 ayat 1 W Nomor 11/PNPS/1963 dan KUHP. Pasal yang dikenal dengan nama haatzai artikelen itu memang belakangan kerap digunakan untuk menjerat para aktivis prodemokrasi karena pasal itu mudah menjerat siapa pun.

Walau vonis yang dijatuhkan lebih rendah dari tuntutan jaksa yang empat tahun -- penyebabnya karena terdakwa masih muda dan bersikap sopan selama sidang -- Muis yang juga mahasiswa Institut Agama Islam Cipasung itu merasa tidak puas. Saat itu juga, ia menyatakan banding. Memang, dalam pembelaannya, Muis sudah minta agar majelis hakim membebaskannya karena ia hanyalah kambing hitam karena pemerintah sudah telanjur menyebutkan adanya aktor intelektual dalam kasus kerusuhan itu. "Saya bukanlah superman yang bisa menghancurkan daerah dalam waktu singkat," ujarnya.

Sejak kasus itu meletus, para aktivis prodemokrasi menganggap banyak hal yang terasa dipaksakan untuk menyeret para terdakwa ke pengadilan. Selain Muis, ada Asep Ilyas (aktivis Himpunan Mahasiswa Islam Tasikmalaya), Mimih Khaeruman (Sekretaris PMII Tasikmalaya), dan Agustiana (pendiri Forum Pemuda Pelajar dan Mahasiswa Garut) yang dijadikan terdakwa dalam kasus tersebut.



Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Any argument? I do wait for your comment.